Feeds:
Pos
Komentar

Observasi dalam PTK

Observasi dalam penelitian tindakan kelas (PTK) memegang peranan yang cukup penting dalam menunjang hasil penelitian. Jika observasi atau pengamatan dalam PTK dilakukan asal saja, dan dengan demikian tentu akan mengalami banyak kesalahan, maka PTK tidak akan memberikan hasil yang memuaskan.
Beberapa keterampilan yang harus dikuasai ialah pemahaman mengenai:
Pengamatan;
Mengamati; dan
Observasi.
Pada umumnya observasi adalah tindakan yang merupakan penafsiran dari teori. Namun dalam PTK tidaklah demikian (Wiriaatmadja, 2008). Dalam PTK, siapa pun yang hendak melakukan observasi, ketika memasuki rauang kelas sebaiknya meninggalkan teori-teorinya di luar kelas, dan mulai mengamati tanpa ada keinginan untuk menjustifikasi sebuah teori atau menyanggahnya.
Kesalahan umum yang sering dilakukan dalam mengobservasi ialah: kita cenderung melakukan penilaian, atau penafsiran, atau memberi vonis (judgment) terlalu cepat. Hal ini akan menghasilkan penafsiran yang salah (Wiriaatmadja, 2008).
Hal-hal yang harus diperhatikan agar kita dapat melakukan pengamatan/observasi secara professional ialah:
1. Memperhatikan focus penelitian, kegiatan apa yang harus diamati, apakah yang umum atau yang khusus. Kegiatan umum yang harus diobservasi berarti segala sesuatu yang terjadi di kelas harus diamati dan dikomentari, serta dicatat dalam Catatan Lapangan. Sedangkan observasi kegiatan khusus, hanya memfokuskan keadaan khusus di kelas seperti kegiatan tertentu atau praktek pembelajaran tertentu, yang sudah didiskusikan sebelumnya.
2. Menentukan kriteria yang diobservasi, dengan terlebih dahulu mendiskusikan ukuran-ukuran apa yang akan digunakan dalam pengamatan. Secara cermat, ukuran-ukuran baik, sedang, lemah, efisien, tidak efisien, dan lain sebagainya yang digunakan dalam pertimbangan observasi dibicarakan terlebih dahulu, dan kemudian disetujui. Hal ini akan menghindarkan kesalahpahaman antara para mitra peneliti, apabila akan melakukan diskusi dan refleksi sesudah pelaksanaan tindakan dilakukan. Kriteria observasi ini selanjutnya akan menjadi penentu apakah pengumpulan data penelitian mengikuti standar tersebut, atau tidak.

Menurut Hopkins (1993) manfaat observasi dalam PTK akan terwujud apabila masukan balik atau feedback dilakukan dengan cermat, yaitu dengan cara:
1. Dilakukan dalam waktu 24 jam sesudah kegiatan tindakan dilakukan;
2. Berdasarkan catatan lapangan yang ditulis dengan sitematis dan cermat;
3. Berdasarkan data faktual;
4. Data faktual ditafsirkan berdasarkan kriteria yang telah disetujui;
5. Penafsiran diberikan pertama kali oleh guru yang diobservasi;
6. Untuk selanjutnya dirundingkan bersama mitra peneliti lainnya dalam diskusi dua arah;
7. Mengahsilkan strategi selanjutnya dalam siklus berikutnya.

Pada tanggal 27 November 2008, saya tulis tentang inovasi pembelajaran. Inovasi pembelajaran tersebut saya maksudkan untuk mengisi kekosongan ide mengenai tindakan apa yang sebaiknya dilakukan dalam penelitian tindakan kelas (PTK).

Pembelajaran kooperatif adalah salah satu bentuk dari inovasi pembelajaran tersebut. Pada tulisan saya yang lalu, telah saya sertakan sedikit materi tentang pembelajaran kooperatif, yang dapat didownload.

Sebagai lanjutan dari tulisan tersebut, berikut ini saya sertakan materi pembelajaran kooperatif untuk jenis Jigsaw dan Jenis NHT. Dari tulisan tersebut, saya berharap dapat memberikan sedikit tambahan pengetahuan bagi para pembaca.

Silakan download materi berikut:

[1] pembkoop-jigsaw1;

[2] pembkoop-nht11.

Inovasi Pembelajaran

Pembelajaran adalah kata kunci dalam dunia pendidikan. Keberhasilan pembelajaran tergantung pada berbagai faktor. Diantaranya ialah faktor peserta didik, faktor pendidik, metode pembelajaran, dan berbagai alat penunjang dalam pembelajaran.

Faktor metode pembelajaran saat ini disinyalir menjadi faktor yang cukup dominan dalam menentukan keberhasilan pembelajaran. Oleh sebab itu berbagai upaya dilakukan oleh pendidik dalam usaha memperbaiki metode atau cara memberikan ataupun memfasilitasi dalam proses pembelajaran.

Kegiatan memperbaiki metode atau cara pemeblajaran ini biasa dikenal dengan inovasi pembelajaran. Lantas pertanyaannya ialah apakah inovasi itu sendiri? dan apa inovasi pembelajaran itu? Untuk mengetahui lebih lanjut pembahasan singkat mengenai inovasi pembelajaran ini dapat anda download tulisan berikut:

[1] inovasipembelajaran;

[2]pembelajaran-kooperatif1.

Analisa Korelasi

Hubungan fungsional antara peubah-peubah telah diuraikan dalam kegiatan belajar 1 dan 2. Disana ditinjau bagaimana persamaan regresi linier ditentukan dan juga bagaimana pengujian terhadap parameter-parameter dilakukan.

Persoalan berikutnya yang dirasakan perlu, jika data hasil pengamatan terdiri dari banyak peubah, ialah berapa kuat hubungan antara peubah-peubah itu terjadi. Dalam kata lain, perlu ditentujan derajat hubungan antara peubah-peubah.

Studi yang membahas tentang derajat hubungan antara peubah-peubah dikenal dengan nama analisis korelasi. Ukuran yang dipakai untuk mengetahui derajat hubungan, terutama untuk data kuantitatif, dinamakan koefisien korelas.

Perlu diketahui bahwa: dalam analisis regresi, kita anggap bahwa peubah bebas X adalah konstan, jadi bukan suatu peubah acak. Dalam analisis korelasi, peubah X dan Y keduanya merupakan peuabah acak yang menyebar bersama.

Di dalam kegiatan belajar 3 ini akan diuraikan bagaimana koefisien korelasi dihitung dan selanjutnya juga diberikan penjelasan mengenai cara-cara pengujiannya.

Download materi: 3-suwarno-modul-9-analisis-korelasi

Analisa Inferensi

Di dalam kegiatan belajar 2 ini, pertama-tama kita akan membahas inferensi tentang parameter regresi, 0 dan 1, dalam bentuk pendugaan selang dan uji hipotesis bagi kedua parameter itu. Selanjutnya, kita akan mendiskusikan pendugaan selang bagi rataan E{Y} dari sebaran peluang peubah Y, untuk X tertentu, dan selang peramalan bagi amatan baru Y, untuk X tertentu. Terakhir, kita akan mengupas pendekatan analisis ragam terhadap analisis regresi, pendekatan uji linear umum, dan ukuran deskripsi bagi asosiasi.

Download tulisan ini.

2-suwarno-modul-9-inferensi

Analisa Regresi

Galton, orang yang pertama kali memperkenalkan alat statistik bernama analisis regresi dan analisis korelasi.

Ia lahir pada 16 Februari 1822 di Birmingham, Inggris.

Galton mempelajari hubungan antara tinggi badan ayah dan anak. Ia mengamati bahwa tinggi anak yang bera-sal dari tinggi dan pendek cenderung “mundur (regress)” ke arah rataan grup. Ia menamakan kecenderungan ini regresi ke arah “mediokritas (sedang)”. Galton kemudian mengem-bangkan suatu deskripsi matematis bagi kecenderungan re-gresi ini.

Istilah regresi tetap bertahan sampai hari ini untuk menjelaskan hubungan statistik antara dua atau lebih peu-bah.

Dengan mempelajari modul 9 ini, Anda memperoleh pengetahuan tentang beberapa konsep yang terkait dengan analisis regresi linear sederhana dan analisis korelasi.

Setelah mempelajari modul ini, secara umum, Anda diharapkan dapat membedakan penggunaan analisis regresi linear sederhana dan analisis korelasi.

Secara khusus, Anda diharapkan dapat:

  1. Membedakan analisis regresi linear sederhana dengan analisis korelasi.

  2. Menentukan korelasi linear antara dua peubah

  3. Menjelaskan pegertian peubah tak bebas (dependent variables) dengan peubah bebas (independent variables).

  4. Menjelaskan asumsi-asumsi yang mendasari analisis regresi linear sederhana

  5. Menentukan dan mengartikan penduga inetersep dan slope pada regresi linear sederhana.

  6. Menjelaskan konsep koefisien determinasi

  7. Melakukan uji hipotesis terhadap intersep dan slope pada regresi linear seder-hana.

Sajian materi modul ini dibagi dalam tiga kegiatan belajar, yaitu:

Kegiatan Belajar 1: mencakup hakekat regresi linear, regresi linear sederhana, peubah tak bebas dengan peubah bebas, asumsi-asumsi dalam regresi linear sederhana, pengertian interesep dan slope, konsep koefisien deter-minasi.

Kegiatan Belajar 2: Inferensi dalam analisis regresi linear sederhana: uji hipotesis interesep dan slope.

Kegiatan Belajar 3: mencakup hakekat korelasi, analisis korelasi, perbedaan analisis kore-lasi dan analisis regresi linear sederhana.

Agar Anda dapat memahami modul ini dengan baik, sebaiknya Anda bekerja sama dalam kelompok belajar untuk mendiskusikan dan menyelesaikan kesulitan yang Anda hadapi ketika mempelajari modul. Mulailah dengan membaca dan mencoba memahami penjelasan dalam modul disertai dengan catatan-catatan yang Anda anggap perlu. Kerjakan setiap contoh soal dan latihan, dan melihat penyelesaiannya kemudian setelah Anda selesai mengerjakan. Demikian juga ketika Anda mengerjakan soal tes formatif. Jika hasil yang Anda peroleh masih salah, pahami kembali teorinya dan kerjakan kembali soalnya hingga Anda tidak menemukan kesalahan.

Selamat Belajar, Semoga Berhasil.

Download materi ini:

1-suwarno-modul-9-analisis-regresi

Menyelesaikan sebuah relasi berulang yang melibatkan barisan a0, a1, … sama halnya dengan mencari sebuah rumus eksplisit untuk bentuk umum an. Pada subbab ini kita akan membahas dua metode penyelesaian relasi berulang yaitu: Metode iterasi dan sebuah metode khusus yang berlaku untuk relasi berulang homogen linear dengan koefisien konstan. Untuk metode yang lebih hebat, seperti metode yang berguna dalam pembangkitan fungsi-fungsi, dapat dilihat dilihat di buku lain seperti yang ditulis oleh Brualdi, R.A dalam bukunya “Introductory Combinatorics”.

Download materi ini:

suwarno-matematika-diskrit-bab-4b1